0

BUKU CERITA ANAK

Anda ingin mendongeng atau bercerita pada anak? Unduh atau download buku cerita gratis

 di sini

Image

Manfaat Membaca Cerita

 

Membacakan cerita dapat dimulai sejak anak masih berusia dini, bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Otak anak usia dini bagaikan spons yang mampu menyerap berbagai informasi. Informasi yang diterima anak akan tersimpan kuat dalam memori. Bercerita atau membacakan cerita sejak anak masih bayi memberikan banyak manfaat, antara lain:

  • Mempererat ikatan batin orang tua dan anak
  • Membantu anak mempelajari kata dan konsep baru. Anak akan lebih cepat lancar berbicara dan bila bersekolah akan lebih mudah dalam belajar membaca (meningkatkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi).
  • Merangsang pertumbuhan otak anak (kecerdasan)
  • Meningkatkan kemampuan mendengar
  • Menanamkan minat baca
  • Meningkatkan rasa ingin tahu
  • Mengembangkan imajinasi
  • Menanamkan nilai keimanan, moral, etika dan membangun kepribadian
  • Menambah pengetahuan

 

Jangan lupa mendongeng atau membacakan cerita sambil menanamkan nilai-nilai moral dan keimanan pada putra-putri anda.

 

COVER

WARNA0 Cover Cover Cover Cover Full cover copy

0

AYO MENGENALI BAKAT ANAK!

1. Sadari arti pentingnya BAKAT. Ingat bahwa bakat sangat bersifat personal dan tidak bisa dipaksakan. Ketika kita orangtua mempunyai bakat seni yang tinggi, maka bakat tersebut bisa saja dimiliki juga oleh anak kita, tetapi bisa juga tidak.

2. Kenalilah bakat apa yang dimiliki oleh anak-anak kita.

3. Ungkapkan kepada anak ide-ide tentang aktivitas/karya yang sesuai dengan bakat yang dimiliki anak kita tadi. Hal ini kurang lebih akan menjadi semacam “pancingan” untuk anak dalam mengembangkan bakatnya sendiri.

4. Dorong dan dampingi anak-anak untuk beraktivitas/berkarya sesuai dengan bakatnya.

5. Monitoring dan evaluasi perkembangan aktivitas/karya dari bakat anak.

0

BAHAYA CALISTUNG

Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena ‘Mental Hectic’. ”Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,” ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada ‘qitah’-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung. Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ”Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,”  jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung.  Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ”Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,” cetusnya. Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ”Jadi tidak main-main itu, ada namanya ‘mental hectic’, anak bisa menjadi pemberontak,” tegas dia.

Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ”SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,” jelasnya.
Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi.  Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ”Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,” jawab dia.